Antara Niat dan Bid'ah

Sungguh susah hidup di akhir zaman. Zaman ketika segala sesuatunya seakan-akan menjadi serba bias. Bagi mereka yang masih awam, sungguh sulit membedakan antara perintah dan larangan. Mana yang harus dilaksanakan dan mana yang seharusnya ditinggalkan. Perbedaannya menjadi semakin tipis meski, pada hakikatnya semua itu mempunyai garis batas yang jelas.

Dari Abu Abdillah bin Nu’am Bin Basyir ra. Berkata, aku mendengar Rasululloh SAW. Bersabda :

“ Sesungguhnya yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas. Sedangkan diantaranya ada masalah yang samar-samar (syubhat) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barang siapa menghindari yang samar-samar, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh dalam perkara yang samar-samar, maka ia telah jatuh pada perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada di dekat pagar milik orang lain, dikhawatirkan ia akan masuk kedalamnya….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari petikan hadits yang termaktub dalam kitab Arba’in Nawawiyah tersebut, cukuplah bagi seorang muslim memahami dua hal saja, perintah dan larangan. Bila dua hal pokok dalam melaksanakan Dien (agama) ini sudah terjawab. Niscaya tidak akan ada lagi rasa bimbang terhadap segala tuntunan yang ada.

Namun, melaksanakan segala tuntunan agama memang bukan perkara yang mudah. Tidak semudah membalik telapak tangan. Bila tidak berada pada manhaj yang shahih, maka segala kemungkinan untuk terjerumus pada lubang kesesatan semakin besar. Semakin tuanya dunia ini, semakin asing pula agama. Semakin banyak yang meninggalkan sunnah, disisi lain fitnah syubhat dan bid’ah semakin merajalela. Islam datang terasing dan akan pergi dengan keadaan terasing pula.

Kisah di malam tahun baru

Bukan bermaksud sok paham dalam urusan agama, atau bahkan merasa paling benar. Namun, inilah realita yang ada. Dakwah yang berkembang di kota asal saya, Kota Blora, memang masih banyak yang harus disempurnakan. Dengan mudahnya saya menemui dua masalah penting yang saya lontarkan tadi, yakni fitnah syubhat dan bid’ah. Dan masalah yang kedua itulah yang menjadi keresahan saya. Ajaran yang dulunya pernah saya imani dan kini perlahan mulai saya tinggalkan.

Berawal dari pemahaman semasa SMA, ketika saya masih aktif di berbagai forum keagamaan. Beragam tuntunan maupun ajaran, baik yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah mulai saya serap. Sebagai seorang yang masih awam akan urusan agama, teramat wajar bila seorang anak ingusan yang masih duduk di bangku SMA, pada awalnya cukup sekadar ikut-ikutan. Kini, seiring dengan pemahaman baru yang saya dapatkan. Ada beberapa ritual keagamaan semasa SMA yang sudah selayaknya tidak dilestarikan.

Salah satu ritual yang hingga kini masih membumi di SMA saya dulu adalah tradisi khataman qur’an. Khataman qur’an rutin dilaksanakan menjelang momen tertentu. Pada kasus ini dilaksanakan menjelang ujian nasional dan tahun baru hijriyah. Tujuannya pun sebenarnya sederhana, agar yang hadir dalam acara tersebut terpenuhi segala hajatnya. Sekilas memang tidak ada masalah dengan khataman qur’an. Justru terkesan ibadah yang mulia.

Akan tetapi, menjadi masalah besar bila mengaitkan khataman qur’an dengan dua momen tersebut. Yang menjadi pertanyaan besarnya, apakah aktivitas yang dimaksudkan untuk beribadah terhadap Alloh Ta’ala tersebut, sesuai dengan tuntunan rasululloh SAW ? bukan kah setiap penambahan dalam ibadah termasuk bid’ah ?

Dari Ummul Mukminin, Ummu Abdillah, Aisyah ra. Berkata, Rasululloh SAW. Bersabda :

“Barang siapa yang membuat hal-hal baru dalam urusan (ibadah) yang tidak ada dasarnya maka ia tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika memang tujuannya hanya untuk sekadar membaca firman Alloh Ta’ala, kenapa harus dilaksanakan pada momen tertentu seperti yang saya sebutkan tadi? Bukan kah membaca qur’an pada hari-hari biasa juga tidak mengurangi nilai ibadahnya disisi Alloh ta’ala?

Dan saya mulai menjaga niat

Saat itu saya dihadapkan pada posisi yang sulit. Disatu sisi saya dituntut menghormati adik SMA yang meminta saya untuk hadir di majelis tersebut. Disisi lain, saya dihantui jikalau majelis tersebut merupakan majelis yang menegakkan nilai-nilai bernuansa bid’ah. Saya tidak mau berspekulasi panjang, toh saya pun tidak punya hak untuk membid’ahkan acara tersebut.

Saya pun terpaksa nimbrung di majelis tersebut, hingga seakan-akan tampak larut dalam suasana khataman qur’an. Saya rampungkan Juz 23 yang dibebankan pada saya. Namun, sejujurnya hati saya tidak berada di majelis tersebut. Saya tidak berniat turut serta dalam khataman tersebut, melainkan sekadar mengaji biasa.

Andai saja saya mempunyai kekuatan untuk menyampaikan hal ini pada adik-adik SMA yang saya cintai, maka akan saya sampaikan dalil-dalil ini. Saya takut bila nantinya termasuk dalam segolongan orang yang ibadahnya tidak mendapat arti disisi Alloh Ta’ala dan pada akhirnya hanya menjadi pribadi yang bangkrut.

“Banyak muka pada hari itu tertunduk hina” (al-ghaasyiyah:2)

Mereka itulah yang merasa telah bekerja keras beribadah di dunia, namun merugi karena amalannya tidak dinilai disisi Alloh Ta’ala. semoga Alloh mengampuni atas segala kedangkalan ilmu yang dimiliki hamba-Nya...

Wallohu Ta’ala ‘alam.



Saya Tak Mampu Lagi Menjaganya


Pernah saya bercerita tentang si adik kecil. “Adik” yang dahulu mampu membuat hati ini tersentuh untuk melindunginya. Melindungi dari pukauan dunia yang serba menyilaukan. Atau sekadar menjadi penolong disaat semua orang mulai menafikkannya. Masih teringat dengan jelas, tentang perangainya yang teramat lugu. Tentang tawa dan candanya yang membuat diri ini ikut menjadi gembira karenanya. Tentang segala asa yang membumbung tinggi dalam benaknya. Tentang semuanya…..

Ah, saya pun semakin tersadar bahwa segala yang ada di dunia tak ada yang abadi. Karena segala keabadian memang hanya pantas disandang oleh-Nya. Begitu pula tentang segala azam yang tertanam dalam dada. Ibarat ombak dipesisir lautan sana. Saya tidak mampu memprediksi besarnya ombak, apakah dia senantiasa pasang atau bahkan surut dengan seketika. Atas segala azam yang dahulu terpatri di lubuk hati. Kini saya mengakui..Saya tidak mampu…tidak mampu…tidak mampu untuk sekadar mengawalnya.

Ketidakmampuan saya…

Saya bukanlah ustadz, saya juga bukan orang alim (ahli ilmu) yang berhak ditinggikan derajatnya, atau bahkan dinukil setiap perkataannya. Namun, alangkah indahnya bila melalui tangan ini, melalui segala tutur kata yang hasan, saya diberi kesempatan menjadi jalan bagi dibukanya tiap pintu hidayah. Akan tetapi, terlalu muluk memang untuk membayangkan diri ini bisa berkontribusi banyak bagi orang lain. Sesungguhnya segala urusan hidayah menjadi hak prerogative Alloh Ta’ala. Alloh berhak memilih siapa saja yang berhak mendapatkan limpahan hidayah, atau sebaliknya dijerumuskan pada lubang kesesatan. Dan inilah yang selalu saya takutkan…

Saya pun tidak tahu, berada pada lingkaran hidup yang mana si adik kecil ini. Saya tidak ingin menjadi orang yang merasa paling suci. Atau bahkan merasa diri ini paling benar. Satu hal yang selalu saya renungkan, alangkah bahagianya bila dia semakin dekat pada-Nya. Alangkah menyejukkan hati melihat seorang wanita shalihah di muka bumi ini, ditengah kejengahan saya melihat wanita pengibar panji maksiat. Semoga…dan semoga….

Satu hal yang merisaukan…

Suatu ketika saya berbincang dengan seorang adik SMA. Teguh namanya, Si Ketua OSIS SMA. Dari dia saya mendapat kabar yang mengejutkan. Hampir-hampir saya tak percaya dengannya. Dia memberi tahu saya, bahwa si adik kecil ini menyandang status Mayorette di tim drumband SMA. Saya pun tertohok, terdiam sejenak, meresapi kenyataan tersebut.

Rasa kecewa, marah, dan muak bercampur menjadi satu dalam hati saya. Kenapa harus si adik ini? Kenapa harus dia? Apakah dia tidak paham dengan segala konsekuensi dari pilihan tersebut? Pertanyaan retoris ini selalu menghinggapi otak kanan saya. Hingga kini, saat saya menulis segala untaian kata-kata ini.

Sekalipun saya tidak pernah berpikir untuk melihat dirinya, ketika dia menggunakan pakaian nista ala mayorette. Pernah berpikir untuk lari, lari dari setiap sudut pandangannya. Saya hanya takut, apakah dirinya termasuk segolongan orang yang disesatkan oleh-Nya. Hingga membuat diri ini tak ingin lagi bertemu dengannya. Tak tega meski sekadar melihat wajahnya.

Ahh, sungguh menjadi musibah besar, jika adik ini menjadi penyumbang fitnah di zaman sekarang. Fitnah yang disebabkan semakin sukarnya menjaga pandangan. Jika saya mampu mengucapkannya, adakah kesempatan untuk berdialog denganmu wahai adik? meski sekadar mendengarkan penjelasan darimu?


maaf adik kecil...maaf...saya tak sanggup lagi mengawalmu..tentukan sendiri jalan hidupmu...

Dalam setiap kesempatan yang saya punya, saya pun hanya bisa mendo’akanmu. Semoga dirimu diberi jalan yang terbaik. Jalan yang membawamu pada kondisi yang diridhoi-Nya.

Dalam keadaan teramat galau, hingga tulisan ini pun menjadi sangat kacau…



Pindah Kos

2 tahun 4 bulan, selama itulah saya menghabiskan waktu di Pringwulung. Sebuah dusun kecil yang masih termasuk dalam teritori Desa Condong Catur. Rentan waktu yang tidak bisa dikatakan singkat, mengingat kini saya telah memasuki tahun ketiga di UGM. bila saya mempunyai target lulus kurang lebih 4 tahun. Paling tidak kini saya telah menapaki setengah jalan dari target saya tersebut.

Sudah barang tentu, dalam rangkaian kehidupan anak manusia. Telah terekam berbagai catatan menakjubkan. Saya bilang menakjubkan, karena memang demikian adanya. Pun demikian dengan pengalaman saya selama di Pringwulung. Kamar kos itu, telah menjadi saksi segala kegembiraan, keresahan, kecemasan, ketakutan. Ah, Intinya, berbagai perasaan hati bercampur baur disana…

Kini saatnya untuk menutup buku dan mulai merangkum segala cerita. Yap, mulai pertengahan bulan Desember ini, saya memutuskan untuk berpindah kos. Dari pringwulung menuju Pogung. Itulah tema perpindahan kos saya kali ini. Kondisi yang sebenarnya tidak saya inginkan sebelumnya. Sejujurnya saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan tempat yang dulu. Saya jatuh cinta dengan kondisi lingkungan yang teramat bersahabat. Teramat saying untuk ditinggalkan…

Itulah Pringwulung, sebuah dusun kecil yang selalu menawarkan ketenangan bagi siapa pun yang tinggal di dalamnya. Sebuah dusun kecil dengan sekumpulan warga yang ramah terhadap setiap pendatang. Baru beberapa hari saya “resmi” menginjakkan kaki di kos yang baru. Rasa kangen dengan suasana kos yang dulu telah membuncah dalam dada. Teringat jelas memori indah ketika masih bermukim disana. Dan kini saya semakin sadar, saatnya untuk memulai lembaran baru.

Yang Baru di Kos Baru

Kos baru, suasana baru, semangat baru, inspirasi baru…Segalanya pun jadi baru! Bahkan keperluan pribadi pun serba baru!!! Yang jelas, aku merasa bersyukur mendapatkan tempat yang teramat kondusif ini. Tidak hanya karena kondisi internal kos-kosan yang diisi orang-orang luar biasa. Lebih dari itu, kos yang satu ini juga menawarkan berbagai kemudahan yang tidak saya dapat di kos sebelumnya.

Pertama, lagi-lagi kos saya dekat dengan masjid. Dan masjid kali ini pun tidak main-main. Masjid Pogung Raya (MPR). Masjid yang menjadi pusat peradaban dakwah ahlus sunnah wal jama’ah. Menawarkan nuansa keislaman yang luar biasa. Mudah sekali saya menemukan kajian ilmu dien di daerah pogung. Saya pun harus mengucapkan rasa terima kasih pada wisnu. Sahabat yang mengajak saya untuk bermukim di sini. Buat sahabat saya tersebut. semoga ini adalah pilihan terbaik dan kita tetap istiqomah di jalan ini.

Kedua, dekat dengan kampus Sospol. Masalah klasik yang dulu sering menghambat aktifitas saya adalah jarak tempu ke kampus yang cukup jauh. Jarak sekitar 5 km antara kos dan kampus memang sekilas tidak terlihat jauh. Namun bagaimana jika dihadapkan pada padatnya aktifitas perkuliahan, disisi lain badan ini membutuhkan rehat sejenak untuk sekadar memanjakan diri? Mampir ke tempat kos-kosan teman adalah salah satu solusi. Akan tetapi, sungguh kenikmatan yang sesungguhnya tetap berada di kamar kos tercinta.

Tidak ada yang bisa mengalahkan nyamannya kamar kos pribadi. Ruang ternyaman bagi anak kos. Meski terkadang situasi di dalamnya chaos bukan main. Toh, tidak mengurangi kenyamanan beristirahat di ruang privat berukuran 3X3 meter tersebut.

Hmm..Alangkah nikmatnya kos yang baru. Saya pun hanya berharap semoga akan tercipta pengalaman-pengalaman menakjibkan lagi bagi seorang Achmad Faisal Amrie. Pengalaman yang senantiasa membawa diri ini pada jalan yang terbaik..Aamin…

selamat tinggal Pringwulung...Pogung telah menanti kedatangan saya...



Wonderkid FM 2009

Sudah sekian lama saya meninggalkan dunia blogging. Akhirnya ditengah kesibukan dan kepenatan aktifitas perkuliahan, datang juga kesempatan untuk sekadar mengupdate Blog ini. Kali ini saya tidak mau sekadar mengupdate tulisan semata. Lebih dari itu, saya ingin memanjakan mereka yang senantiasa menanti tulisan saya. Hehe…

Dan……………………………..

Yap, inilah daftar Wonderkid FM 2009! Daftar youngster kali ini merupakan hasil jerih payah pribadi saya selama mencoba game keluaran SEGA ini. Selain mencoba secara langsung pemain-pemain tersebut, saya juga menambah hasil riset pribadi dengan cara mengobok-obok database FM 2009.

Ah, rasanya tidak seru jika anda hanya melihat atau sekadar membaca daftar pemain di bawah ini. Segera coba dan rasakan sendiri kedahsyatannya! Lets enjoy the game guys!

European League

Liga Inggris

Arsenal

Carlos vela, Aaron Ramsey, Havard Nordveit, Samir Nasri, Theo Walcott, Barazite, Fran Merida, Jack Wilshire, Armand Traore

Aston Villa

Nathan Delfouneso

Chelsea

Gael Kakuta, Scott Sinclair

Everton

Jose Baxter

Liverpool

David N’gog, Daniel Pacheco, Lauri Dalla Valle, Gerardo Bruna, Krisztian Nemeth

Man Utd

Davide Petrucci, Anderson, Danny Welbeck, Jonny Evans, Fabio, Nani

Tottenham

Giovanni dos Santos, Adel Taarabt, Danny Rose, John Bostock, Gareth Bale

Newcastle

Tamas Kadar

West Ham

Jordan Spence

Liga Italia

AS Roma

Riccardo Brosco, Jeremy Menez, Alessio Cerci

Atalanta

Luca Cigarini

Bologna

Gabiele Paonessa

Genoa

Silvano Garibaldi Raggio, Diego Polenta, Fernando Forestieri

Internazionale

Luca Tremolada, Davide Santon, Mario Balotelli, Ivan Fatic

Juventus

Albin Ekdal, Fausto Rossi, Iago, Giovinco, Marchisio, de Ceglie

Lazio

Marco Davide Faraoni, Alessandro Tuia, Alessio Campolli, Lorenzo de Silvestri

Milan

Pato, Yohann Gourcuff

Reggina

Fabio Ceravolo

Sampdoria

Vicenzo Fiorillo, Andrea Poli, Bruno Fornaroli, Daniele Dessena

Udinese

Federico Laurito, Felipe Monteiro, Crisitan Zapata, Andrea Mazzarani, Alexis Shancez

Liga Spanyol

Athletic

Javi Martinez

Almeria

Pablo Piatti, Guilherme, david Moreno

Atletico Madrid

Ignacio Camacho, Sergio Aguerro, David de Gea, Sadick Adams, Pichu Atienza, Ruben Ramos

Barcelona

Bojan, Henrique, Martin Caceres, Thiago

Deportivo La Coruna

Andres Guardado, Adrian, David Rochela

Real Madrid

Ezequiel Garay, Sergio Ramos, Daniel Parejo, Antonio Adan, Mateo Musacchio, Daniel Opare

Sevilla

Federico Fazio, Laurato Acosta, Diego Capel, Jesus Navas, Lucas Trecarichi, Cala

Valencia

Sunny, Ever Banega, Aaron Niguez

Valladolid

Sergio Asenjo

Villarreal

Jozy Altidore, Damian Escudero

Liga Prancis

AS Monaco

Lukman Haruna, Nikolas N'koulou, Dennis Appiah

Bordeaux

Henri Saivet, Mathieu Saunier, Gabriel Obertan

Olympique Lyonnais

Miralem Pjanic, Clement Grenier, Yannis Tafer, Karim Benzema, Hugo Lloris

PSG

Mamadou Sakho, Younousse Sankhare

Marseille

Andre Ayew, Steve Mandanda, Hatem ben Arfa

Racing Lens

Darnel Situ, Alexandre Coeff, Thimothee Kolodziecziak

Stade Rennais

Damien Le Tallec, Yacine Brahimi, Jeremy Helan

Bundesliga

Alemania Aachen

Lewis Holtby

Bayern Munchen

Toni Kroos, Mehmet Ekici, Mats Hummels, Breno

Hoffenheim

Carlos Eduardo

Leverkusen

Richard Sukuta-Pasu, Marcel Riise, Arturo Vidal, Gokhan Tore, Deniz Naki, Renato Augusto

Schalke

Benedikt Howedes, levan Kenia, Manuel Neuer

Stuttgart

Sami Khedira, Manuel Fischer

Werder Bremen

Mesut Ozil

Eredivisie

Ajax

Eyong Enoh, Rik Schouw, Rodnye Sneijder

Feyenoord

Georginio Wijnaldum, Kermit Erasmus

PSV

Reimond Manco

Liga Portugal

Benfica

Sidnei, Angel di Maria, Freddy Adu

Porto

Daniel Candeias, Helder Barbosa

Sporting Lisbon

Ibrahim Rabiu, Daniel Carrico, Adrien, Miguel Veloso, Yannick Djalo

Russia

CSKA Moscow

Alan Dzagoev, Lubos Kalouda, Igor Akinfeev

Dinamo Moscow

Fedor Smolov

Rubin Kazan

Cristian Ansaldi

Spartak Moscow

Alexandr Prudnikov, Christian Maidana

Liga Turki

Galatasaray

Turan Arda

Besiktas

Batuhan Karadeniz

Liga Yunani

Panathinaikos

Sotiris Ninis

Olyimpiakos

Kyriakos Papadopoulos

South American League

Brasileiro

Atletico Paranaense

Choco, Joao Carlos

Flamengo

Erick Flores

Internacional

Fabio Forster, Tales, Walter, Taison

Palmeiras

Marquinhos, Felipe

Sao Paulo

Oscar, Sergio Mota

Vasco

Alex Teixeira, Phillipe coutinho (Inter)

Liga Argentina

Argentinos

Gabriel Perez Tariffa

Boca Juniors

Gabriel Rodriguez, Cristian Chavez, Ricardo Noir, Fabian Monzon

River

Diego Buonanotte, Maximiliano Oliva, Mauro Diaz

Velez

Jonathan Cristaldo, Santiago Trellez

Racing Club

Franco Zuculini

Others

Cruz Azul

Galvan Martin, Edgar Andrade, Cesar Vilaluz

Shakhtar

William, Fernandinho

Rangers

John Fleck

Dinamo Tbilisi

Giorgi Makaridze

Danubio

Gonzalo Barreto



Kode Etik dan Kebebasan Pers

Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak berkomunikasi. One can’t not communicate, begitulah postulat dari palo alto school. Apa pun motifnya, manusia pada dasarnya mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Di setiap sudut tempat, manusia melakukan aktifitas komunikasi dengan orang lain. Di rumah, warung, kampus dan berbagai tempat lainnya terjadi “transaksi” pesan bernama komunikasi.

Penulis pun semakin berpikir, apakah benar manusia membutuhkan informasi layaknya kebutuhan pokok yang lain? Di era ketika teknologi komunikasi berkembang semakin pesat, seakan-akan manusia dibentuk untuk selalu haus akan informasi. Tidak lain karena perubahan terjadi begitu cepatnya, disisi lain garis batas geografis tidak lagi menjadi handicap untuk mendapatkan informasi dari belahan bumi lain.

Kembali pada pertanyaan yang penulis lontarkan diatas, untuk memaknai candu bernama informasi. Ada baiknya bila kita pahami terlebih dahulu hakikat dari informasi itu sendiri. Informasi dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat mengurangi ketidakpastian. Jadi, ketika seseorang mulai menceburkan dirinya pada dunia informasi, sesungguhnya individu tersebut mulai mencari referensi realitas kehidupan yang ada disekitarnya. Realitas empiris yang sampai pada dirinya lah, yang turut membentuk aspek kognitif dan psikologis dari individu tersebut.

Eranya Masyarakat Informasi?

Kini yang menjadi pertanyaan besarnya adalah benar kah negeri ini telah memasuki taraf masyarakat informasi? Ada banyak indicator yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Salah satu diantaranya seperti yang disebutkan Abrar yakni ketika teknologi komunikasi mampu membuka akses pada berbagai pelayanan dan jaringan informasi. [1]

Di Indonesia sendiri, masyarakat informasi belum tersebar secara merata. Masyarakat informasi baru terbentuk pada wilayah urban. Sedangkan, masyarakat industry dan agraris masing-masing mendominasi di pinggiran perkotaan dan daerah pedesaan.

Toh, yang demikian tetap memungkinkan adanya pertukaran informasi dalam jumlah massif dalam tempo yang relatif singkat. Jadilah saat ini disebut eranya mediasi. Media menjadi konsumsi sehari-hari yang tidak lagi terelakkan bagi khalayak luas. Lebih jauh media telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan privat khalayak.

Berita dan profesionalisme wartawan

Bila sebuah informasi telah menjadi bagian tidak terpisahkan pada masyarakat zaman sekarang. Tentu yang terpikirkan dalam benak kita, apakah benar informasi yang ada mampu mengurangi segala ketidakpastian atau malah membentuk sebuah kepastian semu? Berita sebagai turunan dari produk informasi itu sendiri, sering diperdebatkan objektivitasnya. Inilah yang penulis sebut sebagai kepastian semu.

Apa pasal? Patut dipahami, News is construct (berita adalah sebuah konstruksi). Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa realitas yang terdapat di media bukanlah cermin dari kejadian yang sesungguhnya (Mickelson, 1972 dalam Petterson, 2000 : 241). Mengapa bisa demikian ? hal ini disebabkan ideologi yang digunakan oleh aktor yang berada di balik layar pembuatan berita (ideologi media). Dalam proses pengumpulan, produksi, hingga pengiriman berita, semua telah ditentukan dalam bentuk kebijakan redaksional institusi media yang bersangkutan.

Bill Kovach menyebut konsep kebenaran sebagai prinsip pertama yang paling membingungkan bagi seorang jurnalis.[2] Sedangkan George H. Mead mengatakan, ketika wartawan dikirim ke lapangan untuk mencari berita, pada hakikatnya dia tidak mengumpulkan fakta melainkan sebuah cerita. Jangan pernah berpikir media selalu menyajikan informasi yang sebenarnya, mungkin seperti itu yang ingin dia ungkapkan pada khalayak. Setiap media mempunyai tujuan, setiap media mempunyai ideologi, tergantung ideologi apa yang ada di belakang mereka. Bila sudah seperti itu realita yang kita hadapi patut kah mempercayai produk informasi bernama berita?

Kode Etik, Kompas bagi Wartawan

Sebegitu pentingkah peran jurnalisme sehingga topik yang satu ini selalu diperbincangkan? Jika yang dijadikan rujukan adalah keterlibatan berita dalam kehidupan kita, maka jawabnya adalah ya! Kita membutuhkan berita untuk menjalani hidup kita, untuk melindungi kita, menjalin ikatan satu sama lain, mengenali teman dan musuh. Jurnalisme tak lain adalah sebuah system yang dilahirkan masyarakat untuk memasok berita itu sendiri [3]. Inilah yang menjadi alasan mengapa kita harus peduli terhadap karakter berita, terhadap apa yang mereka tampilkan. Sesungguhnya kualitas dari sebuah berita, mempengaruhi kualitas hidup dari individu itu sendiri.

Dan ketika kita sudah memperbincangkan kualitas berita. Adakah satu rumusan yang bisa membuat seorang wartawan benar-benar menjalankan fungsi kontrol social, yang sudah dilekatkan public padanya? Bila dalam tataran lingkaran yang lebih kecil dalam kehidupan manusia, kita mengenal etika dan norma sebagai panduan dalam menjalani kehidupan. Maka, kode etik wartawan lah yang menjadi jawabnya.

Di Indonesia, sejak tumbangnya era orde baru, perbincangan tentang kebebasan pers selalu menjadi diskursus hangat dalam dunia jurnalisme. Akan digiring pada bentuk yang seperti apakah system media bangsa ini? Tentunya dengan kehadiran kode etik inilah, seorang kuli tinta mengetahui apa yang harusnya mereka ketahui. Apa yang harusnya mereka jalankan, dan apa yang haram mereka jalankan.



[1] Ana Nadhya Abrar. 2003. Teknologi Komunikasi, Perspektif Ilmu Komunikasi. Yogyakarta ; Penerbit LESFI. Hal.29.

[2] Bill Kovach & Tom Rosentiel. 2003. Sembilan Elemen Jurnalisme. Jakarta : Yayasan Pantau & ISAI. Hal.37.

[3] Ibid. hal.2



Jangan Salahkan Waktu

Sering dulu saya mengeluh tentang waktu. Waktu terbatas lah, hingga akhirnya gak bisa ini itu lah. Lebih parah sampai ada agenda yang tidak tertunaikan sebagaimana mestinya. Hidup seakan berada dalam tekanan. Mirip momok seorang kuli tinta, deadline..deadline, dan deadline..

Tidak mudah memang bila dihadapkan pada kondisi yang demikian. Hingga akhirnya saya mulai berpikir keras. Begitu sulit kah untuk mengatur waktu? apakah benar saya “berhak"(bisa) mengatur waktu? atau jangan-jangan seharusnya kita lah yang menyesuaikan diri dengan waktu yang senantiasa berputar tersebut.

Alangkah beruntung bagi mereka yang bisa mengendalikan dirinya sendiri. Saya katakan mengendalikan bukan mengatur, karena akhirnya saya menemukan sedikit jawaban dari kerisauan pelbagai tersebut. Alangkah bodohnya bila saya menjadi manusia yang merasa bisa mengatur waktu. Tentunya pernyataan tersebut bukannya tanpa argument yang jelas. Bukankah hakikatnya waktu tidak perlu diatur lagi? Dia sudah mempunyai ketetapan berganti dari detik ke detik berikutnya, dari menit ke menit, jam ke jam dst. Dia sudah menjalani keteraturannya sendiri.

Kini menjadi tugas tiap individu untuk mengatur dirinya sendiri. Sudah siap kah kita membangun karakter keteraturan dalam diri kita? Atau mungkin lebih tepatnya mau membentuk pribadi yang teratur.

Semua berawal dari Keterpaksaan

Memang tidak mudah mengubah sebuah kebiasaan. Apalagi kebiasaan tersebut sudah melekat pada diri. Namun, bukankah hal yang tak biasa itu menjadi hal “biasa” bila kita terus membiasakannya pada diri kita? Pernah kah kita berpikir bahwa segala sesuatu yang kita jalani pada dasarnya diawali dari keterpaksaan?

Sejak kecil saya sudah dipaksa rajin bangun pagi oleh orang tua. Semenjak kecil pula, saya sudah dipaksa giat belajar. Dari pagi sampai sore dipaksa mengikuti pelajaran sekolah beserta kegiatan ekstrakurikuler yang sebenarnya saat itu saya sendiri tidak paham, untuk apa semua ini saya jalani. Dan tidak lupa, sejak kecil pula, saya dipaksa melaksanakan pelbagai ibadah. Sholat, puasa..dan masih banyak lagi..bahkan tak jarang paksaan untuk melaksanakan ibadah membuat saya menjadi sosok yang tak berkutik di depan orang tua.

Toh, yang demikian kini memberi dampak luar biasa membentuk kepribadian saya. Bersyukurlah saya ketika kedua orang tua dulu banyak mengajarkan nilai “keterpaksaan” tersebut. Keterpaksaaan yang membawa pada nilai-nilai keteraturan. Intinya saya diajarkan banyak hal cara memenej diri dengan baik.

Membentuk Kebiasaan Positif, Sulitkah?

Ada ungkapan menarik dari guru saya sewaktu SMA. Beliau pernah berujar, untuk membentuk pola perilaku seseorang memang butuh proses. Kuncinya hanya satu, terus memaksa diri untuk berubah. Dari rasa terpaksa, menjadi biasa, dan akhirnya tak terasa.

Tips yang sangat sederhana memang, tetapi memiliki makna yang luar biasa bila kita mampu memahaminya dengan benar. Mengatur diri untuk dapat menyesuaikan dengan slot waktu yang ada memang butuh perjuangan. Bila segala sesuatunya di dunia ini tidak ada yang instan, maka memulai dari hal yang terkecil adalah solusi yang tepat.

Saya sangat tertarik dengan kebiasaan seorang teman, yang selalu membawa catatan kecil kemanapun dia pergi. Dalam buku kecil tersebut terdapat berbagai agenda yang akan dia laksanakan dalam sehari penuh. Tidak cukup dengan catatan kecil tersebut, di kamarnya pun masih dilengkapi dengan papan kecil yang membantunya merangkai kegiatan dalam sepekan.

Saya pikir, kebiasaan yang demikian sangat membantu dirinya dalam mengatur jadwalnya sendiri. Saya pun mulai berpikir, kenapa tidak mencoba mengaplikasikannya pada diri saya? Tidak sesederhana itu memang, tapi memang perlu dicoba.

Kini yang menjadi pertanyaan besar bagi kita semua adalah, mampu kah kita patuh dengan jadwal yang sudah kita buat tersebut. Nampaknya kita memang harus merenung dengan hati kita masing-masing. Saya yakin, suatu saat diri kita akan lantang berkata, jangan salahkan waktu!