Toilet

Toilet? Ada apa dengan toilet?
Tentu rekan blogger sudah mafhum dengan tempat yang satu ini. Jika belum paham tentang apa yang dimaksud dengan toilet, maka berikut penjelasannya..

Menurut Wikipedia :

Toilet atau Kloset atau WC (bahasa Inggris: water closet) adalah perlengkapan rumah yang kegunaan utamanya sebagai tempat pembuangan kotoran, yaitu air seni dan feses.


Lantas apa yang menarik dengan toilet? Baiklah, Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang toilet di tempat saya bekerja…

Saya bekerja di perusahaan konsultan energi. Untuk memudahkan kinerja dari perusahaan ini, maka perusahaan tempat saya bekerja menyewa sebuah rumah di kawasan Bumi Sarinah Estate , pengadegan utara, pancoran. Rumah berlantai 2 ini memiliki 4 kamar mandi/toilet. Tiga toilet berada di lantai 1, satunya lagi berada di lantai 2. 2 diantara 3 toilet yang berada di lantai bawah dimanfaatkan untuk pegawai dan tamu, sedangkan satunya lagi untuk office boy (OB). Untuk toilet yang berada di lantai atas digunakan oleh dewan direksi.

Menariknya, ternyata toilet di tempat saya tidak hanya sekadar difungsikan layaknya definisi yang saya sampaikan di atas. Sebulan lebih saya bermukim di tempat ini, ada temuan menarik yang saya cermati. Temuan itu diantaranya, pertama, toilet ternyata digunakan sebagai pelarian sementara dari staff pegawai yang terkadang di kejar-kejar oleh atasan. Jika load kerja sedang mencapai titik puncak, terkadang toilet adalah tempat persembunyian yang efektif. Ya, setidaknya toilet bisa dijadikan sebagai tempat mengambil “nafas” dari padatnya kerjaan.

Kedua, ternyata toilet dimanfaatkan sebagai smoking area. Di kantor ini setidaknya terdapat 10 Air conditioner (AC). Sudah barang tentu merokok di ruang ber-AC sangat tidak disarankan. Asap rokok yang bercampur dengan udara akan membuat udara di ruangan menjadi pekat oleh asap rokok. Nah, karena di tempat saya bekerja ada beberapa orang yang menjadi perokok berat, mereka akhirnya “merelakan” dirinya untuk mencuri kesempatan dengan menghisap batang rokok di toilet! Alamak…

Bagaimana dengan anda rekan blogger? Apakah anda pernah merokok di toilet?


Catatan Akhir

Hari ini, kamis 16 Desember 2010. Tak serasa sudah lebih dari sebulan ini saya menetap di Ibukota. Menetap kali ini memang menjadi spesial karena untuk pertama kalinya saya bekerja secara professional. Namanya bekerja professional, sudah barang tentu saya digaji. Namun sekali lagi bukan gaji yang menjadi alasan, kenapa saya memilih “mengambil” kesempatan langka bekerja di ibukota. Guru bernama pengalaman begitu sayang untuk dilewatkan. Sebenarnya, ada beberapa postingan perihal pengalaman saya di dunia kerja yang siap saya share ke rekan blogger. Mungkin setelah tulisan singkat ini.

Ketika menulis artikel ini, perasaan saya campur aduk. Suka-duka bersenyawa dalam segenap pikiran. dalam hati, saya mulai menyadari..inilah fase menuju catatan akhir di ibukota..

Saya dikontrak hanya untuk dua bulan. Terasa lama bagi seorang mahasiswa, tapi terasa singkat untuk seorang pekerja. Waktu dua bulan masih belum cukup untuk menaklukkan ibukota. Menaklukkan setiap liku kehidupan, kerasnya kompetisi, hingga sisi-sisi menyenangkan dan menyebalkan yang menyentuh nilai-nilai humanis, belum sepenuhnya terlewati. Tidak lain karena selama ini waktu habis di desk kerja..namanya saja pekerja..

Ahh..entahlah..dalam kondisi seperti ini saya hanya berdo’a kepada sang pemilik kehidupan. Dengan segala kelebihan dan kekuragannya, lingkungan kerja di tempat saya bekerja memang terasa sayang untuk ditinggalkan. Terlalu singkat meninggalkan rekan-rekan beserta kebaikannya. Mungkin inilah yang dinamakan kehidupan. Ada awal, ada akhir. Ada pertemuan, ada perpisahan. Semoga saja perpisahan ini nantinya menjadi solusi yang terbaik bagi masa depan saya…

BSE, Pancoran. 10.50 WIB. Menjelang berakhirnya masa kontrak…



Katanya Blog Anak Komunikasi UGM...

Menulis adalah pekerjaan untuk keabadian. Petuah dari Pramoedya Ananta Toer itu begitu menghujam di benak saja. Oleh karenanya, siapapun yang mau menulis, berbagi ide, berbagi inspirasi, berbagi cerita, saya akan selalu mencoba untuk mengapresiasinya. Kali ini saya mencoba untuk mengapresiasi “hobi” menulis dari rekan sejawat. Yang saya maksud apalagi kalau bukan anak-anak komunikasi UGM.

Seperti menjadi sebuah keharusan, anak komunikasi harus mau dan pandai dalam menulis. Apapun temanya dan bagaimanapun gaya penulisannya. Mumpung kerjaan saya sedang selooo (kata ganti luang waktu), saya mencoba untuk merekam blog-blog anak komunikasi. Untuk edisi kali ini, cukup saya tuliskan daftarnya saja. Perihal pemikiran usil saya terhadadap masing-masing blog, akan diposting pada kesempatan berikutnya. Cekidot!

Fakhri Zakaria (Jaki) – Alumni/Komunikasi 05 à www.fakhritaksendiri.multiply.com

Ardi Wilda (awe) – Komunikasi 06 à www.ardiwilda.multiply.com

Baiq Nadia Y (Nadia) – Komunikasi 06 à www.nadiadudul.multiply.com

Irham Nur A (Irham) – Komunikasi 06 à www.averyshortstory.multiply.com

Asep Muizudin (Asep) – Alumni/Komunikasi 06 à www.mahasiswanomaden.multiply.com

Adrian Jonathan P (AJP) – Komunikasi 06 à www.noirbible.blogspot.com

Zulfi Ifani (Zulfi) – Komunikasi 06 à www.zulfiifani.wordpress.com

Dian Pawestri (DePe) – Komunikasi 06 à www.jakartaberisik.multiply.com

Dwi Kurniawan – komunikasi 2000 à www.danangwawan.multiply.com

www.fotodeka.wordpress.com

Rizky Aldian (Aldi) – Komunikasi 07 à www.rizkyaldian.multiply.com

Achmad Choirudin (Udin) – Komunikasi 07 à www.antidoksa.blogspot.com

Ahmad Mustofa H. (Ofa) – Komunikasi 07 à www.alkalamu.wordpress.com

Wisnu Prasetya U (Wisnu) – Komunikasi 07 à www.jangandiamsaja.blogspot.com

Suroyya Junaidi (Oyya) - Komunikasi 07 à www.oyyasoi.multiply.com

M Yustan (Yustan) – Komunikasi 07 à www.myustan.posterous.com

Syaifa Tania (Tania) – Komunikasi 07 à www.syaifatania.tumblr.com

Arief Hidayat (Arie) – Komunikasi 08 à www.blogearie.blogspot.com

Blasius Abraham (Abim) - Komunikasi 08 à www.abimabimabim.blogspot.com

Karla Sekar A (Karla) – Komunikasi 08 à www.blokarium.blogspot.com

Fauzan Riza (Ojan) – Komunikasi 08 à www.blogojan.blogspot.com

Diaz Bela Y (Diaz) – Komunikasi 08 à www.yustisiaspage.blogspot.com

Diani Sekaring S (Diani) – Komunikasi 08 à www.dianisekaring.blogspot.com

Angga Prawadika (Angga) – Komunikasi 08 à www.gangstamonsta.blogspot.com

Matahari Asysyakur (mamat) – Komunikasi 08 à www.fantasimatahari.blogspot.com

Anggie Pradani (Enji) – Komunikasi 08 à www.bebascoratcoret.blogspot.com

Sarah Paradiska (Saroh) – Komunikasi 08 à www.lovelaugh.tumblr.com

Dimas Ramadhani (Dimas) – Komunikasi 08 à www.iniblognyadimas.blogspot.com

Ermaya Widiastuti (ermaya) – Komunikasi 08 à www.anabelleadorable.blogspot.com

Bianda Devina (bian) – Komunikasi 09 à www.bian0402.tumblr.com

Faizal Afnan (nanan) – Komunikasi 09 à www.komunikasik.blogspot.com

Bagi yang terlewat, mungkin saya lupa mencantumkannya… J mari terus menulis untuk keabadian..


Seksualitas yang menjadi Banal



“ The media play a crucial role in almost all aspects of daily life. However, their influence is not limited to what we know. The sociological significance of media extends beyond the content of media messages. Media also affect how we learn about out world and interact with one another. That is, mass media are bound up with the process of social life ”(Croteau and Hoynes, dalam PKMBP, 2005 :5).


Jauh sebelum kita mengenal internet seperti sekarang, siapa sangka jika diawal penciptaannya, teknologi ini digunakan untuk kepentingan pertahanan? Sekira empat dasawarsa yang lalu, Internet dicipta oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Tepat tahun 1969, melalui proyek ARPA yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mulai mengoneksikan perangkat software dan hardware untuk saling berkomunikasi dan bertukar data. Tujuan pembangunannya : untuk menangkal bila sewaktu-waktu terjadi serangan nuklir di tempat-tempat strategis.

Maka ketika tahun 1972 yang lalu internet mulai dikembangkan untuk kepentingan non-milter, siapa menyangka teknologi yang satu ini kini telah berubah menjadi database informasi terbesar di abad ini? Bila tujuan penciptaan teknologi adalah untuk mempermudah kehidupan umat manusia, maka demikian juga internet. Segalanya saat ini seperti semakin mudah dengan internet. Menjadi lumrah bila internet kini mampu mengartikulasikan “kembali” kehidupan umat manusia. Seperti yang diungkapkan oleh Yasraf Amir, internet mampu “memaksa” manusia untuk melakukan migrasi besar-besaran aktivitas manusia dari dunia nyata menuju dunia maya.

Dampak yang dihasilkan, kini tengah terjadi transformasi terminologis dan epistemologis mengenai apa yang disebut dengan “komunitas”, “masyarakat”, “komunikasi”, “ekonomi”, “politik”, “budaya”, “spiritual”, dan “seksual”. Migrasi itu termanifestasikan dalam pemberian awalan cyber untuk hampir seluruh bentuk kehidupan nyata, yang kini ditransformasikan dalam dunia maya. [1] tidak terkecuali dengan bahasan tentang seksualitas. Istilah cyber-sex menjadi terma yang jamak dibicarakan, baik di dunia nyata, apalagi di dunia maya.

Tentang seksualitas

Membicarakan seksualitas, maka salah satu turunan bahasan yang tidak akan terlewat adalah masalah pornografi. seksualitas tidak lagi menjadi menjadi tabu untuk dibicarakan, bahkan kini cenderung menjadi banal, cetek, tak bermakna. seksualitas dengan entengnya menjadi jokes murahan, kapanpun dan dimanapun.

Pada dasarnya, bahasan mengenai internet dan pornografi bukan menjadi wacana baru. Berdasarkan sebuah hasil riset yang dilansir oleh TopTenReviews, setiap detiknya lebih dari 28 ribu orang yang mengakses pornografi di Internet dengan total pengeluaran mencapai lebih dari US$ 3 ribu. Data tersebut juga menyebutkan setidaknya tiap detik ada 372 pengguna Internet yang mengetikkan kata kunci tertentu di situs pencari untuk mencari konten pornografi.

Fakta riset di atas agaknya bisa menjadi ilustrasi tentang gambaran rentannya internet dengan konten pornografi. Mungkin tidak dapat digeneralisir dan di komparasikan dengan realitas sosial di Indonesia. akan tetapi kepungan pornografi di dunia maya saat ini memang semakin nyata. Di era kapitalisme yang identik dengan komodifikasi, setiap celah komersial akan diikuti usaha untuk meraih benefit materi semaksimal mungkin. Tak terkecuali dengan pornografi. Dengan internet, pornografi semakin menemukan “persembunyiannya”.

Internet menjadi medium “marketing” yang efektif dalam jaringan industri pornografi internasional. Fakta bahwa industri pornografi bukanlah bisnis ecek-ecek dapat dibuktikan dengan penghasilan total yang mencapai angka US $ 97 Milliar (ICTwatch, 2006). Dengan angka seperti itu, tidak syak lagi internet diyakini menjadi lumbung uang dari perputaran pornografi.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Setali tiga uang. Internet di negeri ini selalu identik dengan 2 hal: Kejahatan dunia maya dan pornografi. Uniknya, pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah melalui Kementrian Komunikasi dan Informatika menjalankan kebijakan penangkalan pornografi yang tidak populis. Sensor konten pornografi di Internet! Dalam tulisan ini tidak akan diperdebatkan mengenai efektivitas sensor tersebut. Penulis hanya ingin memberi sedikit analogi, menyensor konten pornografi di dunia maya ibarat menangkap ikan di lautan dengan lubang menganga disekujur bagian pukat. Perbuatan sia-sia!

Dunia maya tidak sesederhana yang dibayangkan. Di dunia maya, kendali informasi ada di tangan user. Setiap orang bisa menjadi penyebar informasi yang “baik”. Logika seperti mengakibatkan arus informasi yang beredar di dunia maya bersifat massif. Usaha menyensor hanya akan mengahabiskan energi, sedangkan tidak semua konten yang mengandung kata “seks” atau “pornografi” selalu berkait dengan pornografi itu sendiri.

Usaha melawan pikiran erotis

usaha melawan pornografi adalah usaha melawan pikiran. Inilah yang disebut Miguel de Cervantes dalam novelnya berjudul Don Quixote, sebagai kemenangan yang sejati. Jika demikian adanya, lantas bagaimana cara melawan pikiran erotis, sebagai pangkal dari maraknya aksi pornografi?

Penulis lebih sepakat dengan upaya penyadaran (Self-awarness). Menumbuhkan kesadaran sebaiknya tidak melulu berupa paksaan dari luar. Penyadaran sedari dini akan membuat setiap individu mengetahui mana informasi yang baik dan mana yang tidak. ketika orang tua melihat anaknya bermain api, mungkin akan lebih mudah dengan berkata "jangan bermain api!". akan tetapi, apakah nasehat semacam ini akan mengena pada sisi kognisi anak? tentu akan lebih baik jika melakukan pendekatan dengan memberikan penjelasan tentang bahaya dari bermain api. Dengan derajat penjelasan yang lebih intim, pesan akan menyentuh sisi kognisi dari anak sehingga informasi yang disampaikan lebih mendalam.

pada akhirnya, peran kedua orang tua menjadi kunci. Keluarga adalah pembentuk kepribadian terbaik baik seorang anak manusia. untuk meyakinkan hal tersebut, Maka dengarlah nasehat dari bill Clinton perihal bahaya internet dan peran keluarga:

we must recognize that in the end, the responsibility for our children's safety will rest largely with their parents. Cutting-edge technology and criminal prosecutions cannot substitute for responsible mothers and fathers. Parents must make the commitment to sit down with their children and learn together about the benefits and challenges of the Internet. And parents, now that the tools are available, will have to take upon themselves the responsibility of figuring out how to use them." (Bill Clinton)


media adalah pesan itu sendiri. Dengan asumsi informasi yang positif, kepribadian itu akan menular pada kualitas hidup manusia, dan sebaliknya. maka nasehat dari Croteau dan Hoynes pada kalimat pembuka tulisan ini memang masih relevan untuk dijadikan pegangan.


[1] Yasraf A.Piliang. 2005. Cyberspace dan Perubahan Sosial : Eksistensi, Identitas, dan Makna Dalam Jurnal Mahasiswa UGM. BPPM Balairung : Yogyakarta. Hal.7