Sabtu, 07 Mei 2011

Pulang

pernahkah kau merasa berdiri di tempat yang sama, seperti saat ini ku ada..rindukan nyaman, ku ingin sendiri pulang…” (Pulang - Andien Aisyah)

Apa yang anda rasakan ketika saya menyebut kata “pulang”? kangen? bahagia? Atau bahkan sedih? Mungkin jawabnya akan beragam, tergantung kondisi masing-masing kalian. Yang jelas, bagi saya pengalaman “pulang” adalah perpaduan antara kerinduan mendalam yang disertai dengan pengorbanan.

Semua itu tidak lain karena saya hidup di ibukota. Tanyakan saja pada mereka yang bergelut dengan kerasnya kehidupan di Jakarta. Bagi mereka yang seharian berpeluh dengan dunia kerja, pulang memberikan kelegaan karena setidaknya, kepenatan sehari bergelut dengan pekerjaan telah selesai. Sedangkan saya juga menyebut pengorbanan karena kenyataannya kemacetan a la ibukota sudah siap menghadang.

Lain cerita bagi mereka yang hidup di perantauan. Cerita sedikit berbeda, tetapi mempunyai kesamaan yang tak jauh beda. Pulang adalah kerinduan kepada mereka yang paling disayang. Kepada suasana keh,idupan yang ingin kembali dirasa, tentang manusia serta kehidupan yang ada di dalamnya.

Sedangkan pengorbanan di kala pulang, tidak lain karena susahnya mengintip kesempatan untuk pulang. Kesempatan untuk pulang tidak selalu ada, sedangkan untuk mendapatkan sarana pulang, tidak semudah membalik telapak tangan.

Harusnya, permasalahan layanan transportasi seperti ini tidak perlu terulang. Bukankah negeri ini sudah kenyang dengan seabreg permasalahan birokrasi? 65 tahun merdeka dan selalu terperangkap dalam masalah yang sama, bagi saya adalah memalukan. Ungkapan hanya mau menerima bayaran tanpa ada pelayanan ternyata memang benar adanya. Meskipun demikian, kali ini saya tak mau mengalah dengan seabreg permasalahan. Apapun yang terjadi, saya harus pulang.

***

Ada dua hal yang paling membuat saya sebal, pertama menunggu. Kedua, kebohongan. Menunggu kali ini benar-benar membuat saya sebal. Pengalaman yang selalu terulang untuk mendapatkan selembar tiket kereta.

Senin pagi (2/5) sekitar pukul 09.00, saya berangkat ke stasiun jatinegara dengan pengharapan mendapat tiket yang saya inginkan. Objektif yang saya canangkan tidak lain mendapat tiket kereta bisnis, jika tidak, bolehlah mendapatkan kereta ekonomi.

Butuh waktu sekitar 30an menit dari pancoran untuk sampai ke tempat ini. Maklum saja, awal pekan ibarat awal kehidupan bagi ibukota. Kendaraan dari berbagai penjuru kembali menyerbu kue bernama ibukota. Maka jarak tempuh 35 menit sudah cukup saya syukuri.

Sesampainya di stasiun ini, saya sudah menemui antrian yang teramat panjang. Layaknya ular, antrian melingkar-lingkar sampai menyentuh mulut stasiun. Ah, menunggu, sudah terbayang pengalaman yang tidak mengenakkan. Hingga akhirnya, dialog dalam hati ini terbukti.

Fiyuuhh..benar-benar tidak mengenakkan. Saya sudah mengantre lebih dari hampir sejam, ketika tiba giliran, ternyata tiket yang saya inginkan tidak saya dapatkan. Habis waktu dan tenaga tidak terbayar tuntas. Saya hanya bisa gigit jari ketika petugas tiket penjualan berujar :

“maaf mas, tiket sudah penuh..coba saja di hari H pemberangkatan, mungkin ada tiket yang bersisa”. Dari pengalaman ini saya baru tahu, tidak semua tiket kereta dihabiskan dikala masa pemesanan. Ada yang dijual menjelang pemberangkatan. Kali ini saya hanya bisa bersabar. Saya dan mungkin ribuan orang lain sedang menghadi institusi yang “masih” alpa dalam perkara melayani konsumen.

4 hari berselang, tepatnya hari jumat (6/5), saya kembali mendatangi stasiun, kali ini dengan pengharapan langsung mendapat tiket pulang. Kali ini, harusnya tak ada kata gagal. Berangkat satu setengah jam sebelum pemberangkatan, artinya saya sudah mengantisipasi kemacetan. Ditemani terjangan hujan deras, saya berpikir pengalaman pulang kali ini memang penuh pengorbanan.

Hingga akhirnya saya sampai di stasiun ini dan seketika mendapati pengumuman tidak mengenakkan. Di papan tertulis, “ maaf, penjualan tiket kereta X,Y,Z untuk pemberangkatan hari ini sudah dilayani. Kereta sudah penuh. Ttd Kepala Statasiun Jatinegara”.

Seperti di palu godam karena pengorbanan kali ini terasa sia-sia. Yap, mungkin inilah kehidupan. Kalimat sakti baru pun muncul di kepala saya, “manusia boleh berusaha, tapi KAI lah yang menentukan”.

Notes : penulis akhirnya pulang jogja di keesokan harinya. Saat menulis tulisan ini, entah kenapa merasa kesal karena Manchester City menelan kekalahan dari Everton. Sedikit kecewa, tidak jadi berangkat ke komkustik karena tak ada teman yang menemani.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

pesen lewat telpun aja kalo mau pesen kereta, telpon ke 021-121, ntar bayar lewat ATM. Hari H keberangkatan tinggal cetak tiket