Postingan

Salam Perpisahan

Gambar
20 bulan dalam bilangan Tak sebanding kenangan tak berbilang 20 bulan dalam bilangan Pagi menemu petang, kehangatan serta membentang Namun persinggahan sampai jua di penghujung jalan Seperti hembusan angin tak kenal penghalang Biarkan diri berpamit sayang Pindah haluan menuju kebebasan Muchas gracias, Nos vemos la próxima vez (Yogyakarta, 23 Juni 12.20 WIB) 20 bulan, saatnya berpisah (Bumi Sarinah)

Pupus

Dalam sebuah   masa Ku coba mengisar kenangan Bait demi bait atas setiap cerita yang mengabadi Goresan demi goresan yang seketika menjadi saksi Ku urus semua biar tak lekas mati Pernah Ku berharap keinsyafanmu Mereka ulang setiap roman yang tak berkesudahan Diantara desiran nafas dan detak jantung kubisikkan bahasa kerinduan Tak ingin semua ini larut dalam bahagia tak bertuan Dengarlah sajak penantianku Sajak yang tak pernah tereja sebelumnya Sebelum layu, Ku paksa berpagut erat dengan nyayian kesetiaan Biarlah seperti ini, hingga esok tiba waktuku  Sekalipun sadarku lekas memberi tahu, itu sekadar cerita lalu ( Yogyakarta, 19 Juni 2012, 12.12 WIB )

Calo Lagi..Calo Lagi..

Lagi-lagi beli tiket kereta di calo. Ya, kira-kira seperti itulah rutinitas yang belakangan menjadi ritual mingguan saya. Sudah setahun terakhir belakangan ini, saya hilir mudik Jakarta-Yogyakarta menggunakan kereta. Dongkol rasanya ketika saya (dan mungkin dialami oleh banyak orang di luar sana), tiap harinya selalu mengalami kesulitan yang sama. Kesulitan itu tidak lain untuk mendapatkan selember tiket jarak jauh kereta ekonomi. *** Kereta ekonomi, dari namanya mungkin anda sudah bisa membayangkan kereta macam apa yang saya maksud. Layaknya tingkatan kelas di model transportasi yang lain, kelas ekonomi adalah kelas paling bawah, paling buncit. Namanya juga kelas paling bawah, fasilitas yang ditawarkan pun tidak ada yang spesial atau jika tidak mau disebut ala kadarnya. Yang spesial hanyalah harganya yang (menurut saya) kelewat terjangkau. Bayangkan saja, untuk menempuh perjalanan  Jakarta - Yogyakarta, anda cukup menebusnya dengan uang sebesar Rp 35 ribu. Tidak jauh ...

Senjakala Rindu

Gambar
Aku mulai bait ini dengan kata Rindu Rinduku pada dirimu dan Memoar masa lalu Pada dirimu dan serpihan cinta yang berubah sirna Di ujung senja aku membenam rasa Melupakan sebekas cinta yang tak lekas nyata Biar..biarlah semua begini adanya.. Sekalipun rindu mendera jiwa dan sukma berpeluk hampa Biarlah rinduku hilang bersama senja..sekali ini saja..selamanya… (Gd. Tifa, 22 Mei 2012) Ujung Senja di Yogyakarta

23 di 23

Apalah arti sebuah bilangan bagi dirimu, sayang? Karena bagiku yang demikian sekadar pengulangan.. Apalah arti sebuah bilangan, sayang? Karena yang terpenting bukanlah angka, tapi sedalam apa menyelami makna Maka bersegeralah mencari jalanmu Jemputlah masa depan dalam kesempurnaan Ikatlah mimpi-mimpimu Wujudkan cita dan raihlah cintamu Dalam senandung nan tulus, kupanjatkan do’a Jagalah dia wahai Rabb semesta alam Berikan kebahagiaan, karena dengan itu dia pancarkan keceriaan Tunjuki jalannya, lindungi dari kepalsuan dunia yang membuatnya terlena Seterusnya, berbahagialah dalam damai kehidupanmu Kehidupan yang mencerahkan, melapangkan, dan tak lekas lelah berbagi… Seperti matahari yang tak kunjung bosan membagi sumber kehidupan.. Karena itulah sebaik-baik pengharapan..hanya untukmu saja.. dalam bilangan 23 di 23.. sebuah doa’a, satu untuk selamanya… (17.14, Gedung Tifa, Jakarta, semoga bukan puisi terakhir untukmu…)

Maaf

Tiap jeda tak henti aku memikirkan Semakin persinggahan terbilang semakin tak tertahankan Bukan sengaja alpa melainkan tak kuasa menegur sapa Atas satu tutur yang tak sempat terucap Diperalihan sang waktu aku termangu Maka terima bisikkan kata-kata maafku Maafkan aku… Atas perangai yang melahirkan pertikaian Maafkan aku… Atas segala pengorbanan yang tersia-siakan Maafkan aku… Atas tingkah laku yang membuatmu meragu Maafkan aku… Atas dosa-dosa yang menyulut berang dalam dada (28 Maret 2012, antara Jakarta dan Yogyakarta, sunyi sendiri dalam keriuhan kereta)  

Do’aku

Bilakah aku merangkai Kata, maka terseliplah namamu Bilakah aku meracau Cerita, maka terseliplah namamu Bilakah aku mengucap Do’a, maka terseliplah namamu Dalam keheningan aku mengelai badan Menengadahkan tangan, menghamba pada Tuhan Melangsamkan waktu berlama mendo’akan dirimu dan aku Untukmu agar dibukakan pintu cintamu Untukku agar ditegaskan padamu Untukmu agar ditunjuki jalan keridhoan Untukku agar dilimpahkan benih kebaikan Untukmu dan untukku agar kita dapat beriringan sekalipun berjebah perbedaan Aku pun berpagut dengan sepertiga malam terakhirku Ku akhirkan dengan secarik do’a terbaik : “Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah” (05.20, Yogyakarta, 22 Maret 2012. Apa kabarmu, di sana? semoga baik-baik saja…)