Postingan

Iklan Politik

Dahi ini berkerut. Tak habis pikir dengan fenomena yang senantiasa mengawal keseharian hidup kita. Namun, kita tidak tersadar olehnya. Dia adalah komoditi paling laris saat ini. Saat pesta demokrasi benar-benar menunjukkan keglamourannya. Sudah barang tentu, keberadaannya ditujukan untuk mendongkrak elektabilitas suatu parpol. Iklan politik namanya. Berhala baru di era direct democrazy. Hari berganti hari, dan tiap hari beragam pesan datang silih berganti. Akan tetapi, hampir tidak ada esensi yang bisa dipetik dari kondisi semacam ini. Seakan parade iklan parpol tertentu hanya ingin menunjukkan pada khalayak. Partai mana yang paling banyak isi dompetnya. Ah, jikalau saja para parpol tersebut (yang banyak ngiklan) berani lantang berbicara, “ ini lho, partai kami punya duit banyak, makanya bisa ngiklan terus!!!”. Bah! Emangnya ini praktek jual beli. Loe jual, gue beli?? Enak banget mereka berharap untuk dipilih. Setelah menghilang selama 4 tahun, kemudian menampakkan diri di media dan me...

Mahalnya Demokrasi Kita

Tahukah anda semua, berapa biaya yang dihabiskan KPU untuk menyelenggarakan Pemilu 2009 ini? Data terakhir yang saya ketahui, menunjukkan angka yang fenomenal. Tak kurang nominal sebesar Rp. 50 Triliun dikucurkan pemerintah untuk menghelat Pemilu kali ini. Fantastiskah? Tentu saja, apalagi bila menilik fakta jumlah sebesar itu sebanding dengan 5 persen dari total APBN 2009. Belum cukup sampai disitu, dahi saya semakin berkerut jika mengingat kembali fakta yang terjadi di Pilkada Jatim. KPUD Jatim menggelontorkan dana tak kurang dari Rp. 800 Milliar, untuk 2 kali putaran pilkada plus sekali pungutan ulang. Dahsyatnya lagi, konon dana sebesar itu sama dengan seperlima dari APBD Provinsi Jatim! Sebagai perbandingan, anggaran tiap provinsi untuk pilkada berkisar antara Rp. 150 – Rp. 500 Milliar. Dari data tersebut, setidaknya kita dapat mengalkulasi sendiri, berapa dana yang “dibuang” sebagai konsekuensi logis dari “kewajiban” berhukum dengan sistem demokrasi. Saya tidak tahu apakah...

Berpikir Ilmiah

Suatu ketika, dalam sebuah perjalanan menuju Tawangmangu. Saya berbincang renyah dengan salah satu teman satu jurusan. Saat itu, kami berdua melakukan perjalanan menyambut Munas BPPM Balairung. Perbincangan diawali dengan hal-hal yang remeh temeh tentang pengalaman kami berdua semasa kuliah Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. tak dinyana dari perbincangan ringan itu, secara tidak sadar kami berdua merasa tercerahkan satu sama lain tentang esensi dari “kuliah” itu sendiri. Saya pun teringat dengan ucapan salah satu dosen di jurusan saya, mbak hermin namanya. Beliau pernah bertutur sederhana, namun sarat mana. “Ciri dari seorang intelektual adalah mampu melakukan analisis terhadap persoalan secara ilmiah”, kurang lebih begitu kutipannya. Ucapan yang semakna dengan kalimat tersebut, berkali-kali diulang oleh mbak hermin di berbagai kuliah yang diampunya. Timbul pertanyaan besar di hati saya untuk menggali makna dari simbol-simbol tersebut. Muncullah konklusi sederhana dari saya. Mungkin, kam...

Menikah Muda, Sebuah Impian

Setiap orang pasti mempunyai impian. Dari bermilyar-milyar orang di dunia ini, Impian (mimpi) dari mereka pun beragam. Ada yang terlihat mempunyai impian biasa-biasa saja, ada pula yang mempunyai impian luar biasa. Tentu yang demikian tidak terlepas dari ukuran berbeda tiap individu. Mungkin bagi si X, mimpi si Y terhadap sesuatu bernama A terlalu berlebihan. Namun, untuk permasalahan tersebut, Y mempunyai pandangan yang berbeda. baginya, impian terhadap A adalah hal yang wajar. Karena impian adalah sarat dengan nilai interpretative dari tiap individu…. Bagi saya, impian adalah sesuatu yang teramat penting. Muncul pertanyaan, mengapa saya harus bermimpi? Sederhana, karena dari impian-impian itulah termanifestasikan sebuah ambisi, cita-cita. Dari impian itulah muncul sebuah keinginan untuk merealisasikan target-target yang abstrak menjadi konkret. Dari impian-impian itulah, kita menjadi terpacu untuk meraih sesuatu yang berbeda dalam kehidupan ini. Hmm..namun hati-hati! Jangan asal ...

Mengakrabi Hujan

Apa yang menarik ketika ngobrolin hujan? Hmm..dengan usia yang sudah seperlima abad ini, tak banyak cerita menarik (menyenangkan) yang dapat saya hadirkan kaitannya dengan hujan. Andai saja saya masih anak-anak. Masih jadi bocah ingusan. Masih jadi anak lugu yang belum merasakan begitu ributnya dunia ini. Tentunya banyak kisah menyenangkan yang dapat saya uraikan tentang “saya dan hujan”. Dengan usia saat ini, mungkin sudah bukan tempatnya lagi untuk bermain-main dengan butiran air hujan, layaknya kumpulan anak kecil yang berlarian di sana-sini saat hujan menyirami bumi. Masa kecil menjadi masa persahabatan yang paling indah dengan hujan. Tak ada keluhan ketika hujan datang. Tak ada celaan ketika hujan tak kunjung reda. Yang ada adalah riangnya hati. Rasa rindu pun membuncah ketika hujan tak kunjung menghampiri. Kenikmatan terbesar bagi saya kala hujan tiba yakni, ketika saya dan sekumpulan laskar cilik yang lain, bermain-main dengan hujan itu sendiri. Menghanyutkan diri dengan berman...

Korupsi, Menyoal Moral dan Hukum yang telah tergadaikan

Apa yang mempersatukan bangsa Indonesia dari sabang sampai merauke? Ada sebuah jawaban menarik meski terdengar sinis. Ya, dari barat sampai timur bangsa ini disatukan oleh korupsi! Alamak, begitu akut dan kronis kah permasalahan ini hingga cerita darinya tidak pernah lekang meski generasi berganti generasi, pemerintahan berganti pemerintahan, serta tidak ketinggalan regulasi yang senantiasa coba disempurnakan? Tidak dapat dipungkiri lagi, praktek korupsi di negeri terbilang mengkhawatirkan. Indeks yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga survey internasional menunjukkan bahwa sebelum reformasi 1998, indeks korupsi di Indonesia menunjukkan angka 2,0. Namun, setelah reformasi 1998, tepatnya ditahun 2002 skornya merosot menjadi 1,9 [1] . Timbul pertanyaan menarik, 10 tahun merasakan euphoria reformasi, mengapa tidak membawa bangsa ini pada kondisi yang lebih baik. Padahal, reformasi telah memberi dampak luar biasa bagi negeri ini. Reformasi telah mengubah konstitusi, mengubah wajah ...