berita duka itu datangnya dari SMANSABLA. Dengan berbagai perkembangan yang kini terjadi di SMA itu, saya dan kita semua sebagai alumnus tentu patut berduka. berduka dan tidak mampu menganulir (setidaknya hingga saat ini) atas segala ketetapan yang telah diputuskan.
tentu rekan-rekan bertanya, apa gerangan yang membuat kita musti berduka dari SMA yang luasnya tidak lebih dari sebuah lapangan bola ini? bukan menjadi rahasia umum lagi jika dalam beberapa tahun terakhir, biaya sekolah di sekolah ini makin hari makin melejit saja. layaknya sebuah peluru yang dihempaskan dari senjata api. dia terus melesat tanpa kendali.
dan tahun ini, semua itu mencapai titik klimaksnya. Saya pun tidak tahu harus mengadu kepada siapa, karena saya pun bukan siapa-siapa. saya hanyalah seorang alumnus SMANSA yang tidak mempunyai kekuatan untuk sekadar mengadvokasi berbagai ketetapan yang sudah diketuk. melalui tulisan ini, saya hanya berharap respon dari rekan-rekan sekalian untuk nantinya melakukan tindakan yang konkret.
sekadar info, untuk tahun ini, SMA kita tercinta melakukan PSB (penerimaan siswa baru) dengan format lain dari biasanya. tak kurang ada 5 tahap yang harus ditempuh calon siswa, untuk dapat merasakan sekolah di SMA yang katanya terbaik di Blora. tahapan itu adalah :
1. Penilaian Rapor
2. tes akademik (tertulis)
3. tes psikologi
4. tes wawancara ORANG TUA
5. Kalkulasi nilai UAN
Tidak jelas, apa filosofi yang digunakan sehingga SMA ini melakukan penjaringan marathon seperti itu. Yang muncul dari analisis pribadi saya, sudah barang tentu dengan sistem penjaringan semacam itu, celah kecurangan akan semakin mudah terjadi. Yang lebih menyesakkan, setiap tahap seleksi diikuti dengan konsekuensi mengeluarkan uang sebagai ganti “biaya administrasi”.
Bila boleh saya menjelaskan, mengambil formulir pendaftaran bayar 7.500. lolos seleksi tahap pertama, bayar 20.000 untuk selanjutnya mengikuti tes akademik. Lolos tes akademik bayar 30.000. untuk mengikuti tes psikologi dan wawancara orang tua bayar lagi 75.000. setelah itu, calon siswa diseleksi hasil UANnya. Sistem seperti itu berbanding lurus dengan membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di bangku SMANSABLA.
Hey…belum selesai sampai disitu…untuk “memesan” satu kursi di SMANSABLA, orang tua diminta kerelaannya untuk memberikan bantuan Rp. 3.000.000 (jalur normal). Sedangkan untuk jalur belakang, bisa mencapai Rp. 5.000.000. belum lagi SPP yang kini mencapai rp. 250.000.
tercengang?? Sudah barang tentu!!
Gelisah??? Pastinya!!!
Marah? Kepada siapa kita harus marah??
Mengeluh? Apakah mereka mendengar keluhan kita??
Saya sudah dihadapkan dengan realita mahalnya biaya kuliah. Namun, sebagian dari kita mungkin masih bisa berkelit dengan membanjirnya tawaran beasiswa. Sedangkan, anak SMA??kepada siapa mereka harus mengemis uang untuk sekadar mengecap bangku SMA? Dimana letak hati nurani dari orang-orang yang terlibat dalam keputusan ini??
Menjadi kebiasaan individu di negeri ini untuk tidak jujur. Jujur dalam segala hal. Dalam hal ide, gagasan, hingga pada tahap implementasi. Dengan gembar-gembor menjadikan SMANSABLA sebagai sekolah bertaraf internasional. Yang terjadi adalah sekolah bertarif internasional! Apa jadinya kabupaten yang hanya mempunyai pendapatan per kapita yang berkisar di angka 4,5 juta ini dijejali biaya selangit seperti itu? (data BPK tahun 2008)
Kepada setiap alumnus yang mempunyai kekuatan untuk melakukan advokasi. Saya secara pribadi dan perwakilan dari Fasmaba memohonkan uluran tangannya untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut perihal masalah ini. Kami tidak cukup mampu meski sekadar membuka pintu dialog dengan jajaran petinggi SMANSABLA…
Mari Bersama menjadikan Blora sebagai kota yang adil, sejahtera tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal.
Achmad Faisal Amrie
Menimba Ilmu di J.Ilmu Komunikasi UGM Yogyakarta
Wapres 1 Fasmaba


2 komentar:
Keresahan itu memang sedang melanda semua kalangan masyarakat terutama bagi yang ingin menyekolahkan anaknya tahun ini, saya sebagai alumnus tahun 87 juga prihatin. Namun apakah semua berita itu benar 100 % ?????? Saya sangat prihatin dengan artikel ini ??? Sebagai alumnus plus tahu etika tolong sebelum menulis artikel dikonfirmasikan dulu kebenaran berita, jangan menimbulkan keresahan bagi masyarakat, ok.
saya seorang yang belajar jurnalis, setiap yang ditulis pasti melalui sebuah verifikasi. bukan sekadar justifikasi..terima kasih atas masukannya.. :)
Poskan Komentar